News

COP29 UNFCCC, Marubeni Memimpin Proyek BECCS Inovatif di Indonesia: Merintis Integrasi Teknologi Bioenergi dan CCS

01 September 2024

 

Indonesia mengambil langkah berani dalam melawan perubahan iklim dengan mengintegrasikan produksi bioenergi dengan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Pendekatan inovatif ini, yang dikenal sebagai Bioenergi dengan Carbon Capture and Storage (BECCS), disorot dalam diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP29 UNFCCC di Baku, Azerbaijan, pada 15 November 2024.

Diskusi yang bertajuk "Harmonisasi Kekuatan Alam dan Teknologi: Pengelolaan Hutan Berpadu dengan BECCS dalam Aksi Iklim" ini menghadirkan tokoh-tokoh penting dari sektor pemerintah dan swasta. Ristianto Pribadi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan, dan Shinji Kasai, Direktur Utama PT Marubeni Indonesia, termasuk di antara peserta yang menonjol.

BECCS merupakan pendekatan inovatif yang menggabungkan pengelolaan hutan lestari, produksi bioenergi, serta penangkapan dan penyimpanan karbon. Integrasi ini menciptakan proses karbon negatif, menghasilkan energi sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida. Proses ini melibatkan penangkapan dan penyimpanan emisi karbon yang dihasilkan selama produksi bioenergi, yang secara efektif menciptakan sumber energi karbon-negatif.

Perkembangan signifikan dalam inisiatif ini adalah Perjanjian Studi Bersama yang ditandatangani antara Marubeni Indonesia dan PT.Pertamina pada bulan Agustus 2024. Rencana mereka melibatkan penangkapan emisi dari penggunaan energi biomassa di pabrik pulp Marubeni dan menyuntikkannya ke sumur minyak dan gas milikPertamina yang tidak aktif. Karbon dioksida yang tersimpan ini berpotensi digunakan untuk meningkatkan produksi minyak dan gas atau diserap oleh tanaman sebagai pupuk melalui fotosintesis.

Geografi Indonesia memberikan keuntungan unik untuk teknologi ini, dengan lokasi sumur penyimpanan karbon yang sering kali terletak dekat dengan kawasan hutan. Misalnya, sumur di Sumatera Selatan terletak hanya 5 kilometer dari kawasan hutan, yang memfasilitasi integrasi pengelolaan hutan dan penyimpanan karbon yang efisien.

Penerapan BECCS di Indonesia memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat, khususnya dalam tahap penelitian dan implementasi. Pendekatan holistik terhadap aksi iklim ini tidak hanya mengatasi emisi karbon tetapi juga memastikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, yang sangat penting bagi keberlanjutan pasokan biomassa sebagai bahan baku bioenergi.

Dengan memelopori integrasi bioenergi dan teknologi CCS, Indonesia memposisikan dirinya di garis depan strategi mitigasi perubahan iklim yang inovatif. Prakarsa ini menunjukkan komitmen negara untuk mengeksplorasi solusi teknologi canggih sambil memanfaatkan sumber daya alamnya dalam perang melawan perubahan iklim global.

Kembali ke List